GAGA's FanArtic

GAGA's FanArtic
Just a little monster

Sabtu, 14 Januari 2012

untit?

Aku mengering kerontang,
selebar bahu terbuka rapi,
terlepah dalam hangatnya tahi,
keranjang buket yang bergambar anjing di dalamnya,

kelasi meliuk dalam gumam,
tertegun sejenak merenggut sampah dan seonggok kotoran ayam,
mengeruk sendiri,
dalam seriam serambi,

telinga mengepak,
segala halau pikuk yang menebas bahu,
mencekik pilu dalam kegalauan,
pelintir semua,
elektro petir dalam pangkuan sajaknya,
ah, itu hanya simpulan semata,

diksi leksikon entah apa?
tanda tanya,
hanya saja ada yang temaram,
hanya melontarkan tarian jari jemari yang memilukan,
terpekik dalam ragunya,
masih dalam galauan,
bandara apa bandar udara,
ah, apakah aku hanya mabuk sekarang,
bukan,
sepercik galau memakan temaram dalam bingung,

telisik telusur telentang,
keadaanmu yang mati dalam serumpun,
suntuk dalam guyonan para cendekia,
guyonan?
oh, hanya itu saja yang tuan kata?

instrumental,

Jauh, hmmmh, kapan,
ketika tersesat ku tertegun,
aku tak bisa mencerna olahan daging dari kata dan huruf itu,
aku tersenyum ketika temaram,
aku ceria ketika kosong,
aku gembira ketika galau,
simpulan pun menarikkan,
ketika kapan dan apa?
Jantung ku mulai mengemis,
bertepi,
kapan?

Sembari, berkaca, dan hmmmh,
aku melihatnya,
suara itu layaknya adzan yang mendampingiki kelahiranku,
getaran itu,
bagaikan degupan yang tak kan berhenti menggebu,
tak kan berakhir,
bermacam dan berjenis,
melihat ke diriku yang tersenyum,
aku tenang dalam layaknya yogamu,
ragawi dalam hangat itu,
aku harap padaku,
aku tak mau berakhir,
setelah baru masuk,
menggetarkanku,
huaaaaaaaaaaaaaaaa,

hmmmh, pelan, dan pasti,
ada dalam kemegahan itu,
aku melukiskan seluruh kata padamu,
aku coreng dengan kuas yang lembut,
aku sobek dengan api yang menghangatkanmu,
dalam seni yang mengerikan,
aku harap kau tak mengerti maksudku,
begitukan?

simpulan pendekku,

ini hanya berawal, sekawanan onggokan gundu dalam permainan,
yang kutitahkan untuk diam sendiri,
dalam diam itu hanya aku yang tahu,
yang mereka tak bercuma,

dalam megahnya mega,
aku tak bisa menyimpulkan fana,
aku hanya sendiriku,
dalam lembayung berlabuh semu,
tapi hanya aku dan diriku yang tahu,
dan jantung yang berdegup itu akan mengunci kotak buku ku,
tak akan berhenti sampai datangnya waktuku,

dalam kekonyolan semut,
semua hal tertransaksi dengan baik,
akan tetapi hanya aku tahu kalau semut berbicara,
semut beralih dan pergi,
walaupun hanya diam disampingku,
hahaha,

pikirku tulilah ia,
ketika aku melompat sendiri,
semua tak akan bergeming,
ketika itu semua berhenti tiba berlanjut,
kagetkah?
hanya aku sendiri yang berdiam semu,
tak jelas manakala ku liat diri,
dan pribadi dua kali,
tak berhenti ku bergeming dalam pikirku ini,
hanya untuk menjamin segala kenistaan itu,

Semampat Tulus

sekarang semua tak berarti,
ketika dunia hanya bukan milik mereka,
tapi hanya dalam dalam intuisi buta,
sekejap ku terpaku dalam sebuah arti kata,
sebuah kematian yang tiada jujur,
kini langka tak berjejak,

tulus,
apakah gerangan,
masihkah dipertanyakan,
tak kusangka berduga,
dalam muka dua kali yang berbeda,
dalam haru dalam kelu,
senyap sendu,
dalam tiap tingkah polah mu,
ku tundukkan kepala tuk pertanyakan,
apakah itu tulus,

Sekedar Mengamati Pagi Ini

Ragaku Tersenyum,
Pada Lampu Jalan yang Berjalan dalam Diamnya,
Dari Jendela yang Hening Aku Bergerak,
Dalam Pikirku Angin Membujukku untuk Membaca, Menulis, dan Melihat,
Pada Daun Pohon Kecil yang Berhembus,
Pada Burung Jalak yang Lemah Berterbangan,
Pada Pohon Palem Rendahan yang Menghampiriku,
Tiba-tiba, Suara Sepeda Motor Membuatku Mengendus Sesuatu,
Pada Air Sadah yang Bekerja dalam Sedu Sedan,
Pada Pedestrian yang Berdiri Tergeletak,
Untuk Bertanya pada Bunga Kecil yang Berwarna Cerah yang Sendu,
Aku Bergumam padanya,
Tentang Gedung Berkelas yang Membawa Rasa Takut,
Tentang Catatan Busuk Di Sampingku,
Tentang Taman Menakjubkan yang Bergoyang ketika Terbujur Kaku,
Dan Pastinya Tentang Gaya Baru Pak Kepala,
Hal Lain yang Menarik ketika Itu,
Ketika ku Dengarkan Autotune Itu,
Meyakinkan Pagar Besi Itu Dari Kegalauan,
Yang Membuat Besi Berkarat yang Ragu Itu Mencamkan dan Percaya,
Untuk Menduduki, Mengharapkan, dan Mendoakan,
Dalam Tingginya Undakan,

Yang mungkin kala esok,

Kala kini,
Semula yang ku sendu,
Menjadi mati dan tak berarti,
Yang aku rasa,
Ini hanya rasa matiku,
Sendiri,
Menyepi,

Ku melesat menuju mimpi,
Menjauhi segala rasa ingin mati,
Menakjubkan diriku sendiri,
Menerka nanti,

Sepi sendiri,
Yang menjadi bianglala diri,
Yang selama ini kubohongi,
Selaras rindu menyendiri,
Yang buatku melirik segala hening,
Menuju utara barat dan pusat ku,
Mengitari setiap kapital,

Lepas rasa lepas duka,
Aku ingin berkata,
Maaf mungkin berhina,
Tapi, kenyataan berbalik padaku,
Munafik itu dosa,
Tak ada artinya ku berdalih,
Bila hanya bunuh diri,

Menjadikan mataku merana sendiri,
Rindu akan segala rasa itu,
Yang sejatinya kusalahi,

Maaf Tuhan,
Maaf tapi,
Ku tahu kau sengaja,
Dan ku syukuri,
Kini dan nanti,

Aku, Temaram, dan Tak Usah Kau Tanya

Lemari itu,
Kosong,
Aku akan isi menjadi ramai,
Akan aku tata segala detail ini dan itu,
Yang selama ini mengkosongkan diri dan mati,
Dan menjadi seorang absurd,

Seiya sekata,
Mungkin sekarang aku masih,
Tapi tak ku akan kata lagi,
Walau mati itu sakit,
Aku masih ingin hidup,
Dari tadi pagi menuju sehati,
Yang membeku dalam patung,
Dan berpikir menuju diriku,

Mataku sakit,
Hatiku remuk redam,
Pikiranku pun ikut menyatu,

Aku pun benci,
Melihatmu bersembunyi dalam kacamata kaca,
Atau kuingin kau mati,
Agar kau bisa disampingku selamanya,
Ku harap itu memasukimu,
Yang tak terlihat dan menjadiku,
Dan membuatmu menjadiku,

Dalam sendu temaram itu,
Aku harap Tuhan menyertaiku,
Walau mereka menyipit dan berdiam,
Menjadi bonekaku,
Aku ingin sekali bermain seperti itu,
Lebih ingin dibanding ku hanya diam dan sakit,

Mungkin Tuhan menyertaiku,
Tapi norma Tuhan???
Yakin kah???